Jumat, 14 Januari 2011

Dualisme Pendataan UN 2011

Aplikasi pendataan ujian nasional adalah sistem aplikasi untuk menangani mekanisme pendataan siswa calon perserta ujian nasional. Saat ini dan selanjutnya sistem pendataan calon peserta ujian nasional tingkat SMP masih dilakukan secara offline, karena tidak semua daerah dapat mengakses internet dengan baik (bagaimana kalau sekolah sudah punya jaringan internet?) maka puspendik membuat aplikasi pendataan offline ini, tujuannya adalah untuk mempermudah menginput data secara offline dahulu terutama untuk daerah yang sulit mendapatkan jaringan internet, kemudian diupload oleh Dinas Pendidikan Kabupaten. (tetapi Dindikpora Kabupaten kami, untuk tingkat SMP alasannya tidak diberi kewenangan untuk online mandiri oleh Dindikpora Propinsi).
Pada pendataan peserta ujian tahun ini (2011) di kabupaten kami terjadi 2 (dua) kali  pendataan dibandingkan dengan pendataan pada tahun-tahun  sebelumnya, yaitu entri data dengan aplikasi Biodata UN Offline dan Bio-System Online. Kami selaku operator pendataan dibuat kerja  dua kali, payah khan.
PERTAMA, kami harus entri data peserta ujian dengan aplikasi Biodata UN Offline,

setelah selesai pendataan akan terbentuk file biott_pprrsssj.DBF dan biott_pprrsssj.CSV file inilah yang diupload oleh Dindikpora Kabupaten ke http://biounsmp.org (selain SMA/SMK tidak diberi wewenang online mandiri).

Jumat, 17 Desember 2010

Pendataan Peserta Ujian Tahun 2011

Aplikasi Pendataan Ujian Nasional 2010 tingkat SMP masih tetap menggunakan system offline. Dan ini sudah menjadi kebiasaan Kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga, Bidang Sekmen dalam meminta data peserta ujian nasional selalu mendadak. Dikatakan mendadak karena dalam 1 (satu) minggu data harus sudah diterima Bidang Sekmen. Dan Bidan Sekmen tidak mau tahu betapa repotnya meng-entry data siswa dalam jumlah yang banyak, "POKOKE" data nominasi harus diserahkan tanggal yang sudah ditetapkan. Apalagi Bidang Sekmen tidak memberikan solusi bagaimana agar entry data dapat dilakukan dengan cepat.
Berawal dari pengalaman saya mengoprek-oprek data Excel ke DBF, maka entry data dapat dilakukan dengan cepat, kalau tidak ... wah bisa kerepotan.
Solusi ini saya berikan sesuai kemampuan saya dalam menjelaskan. Prediksi saya, operator komputer di sekolah rata-rata sudah familiar dengan Microsoft Excel (file *.xls) daripada dBase (*.dbf).
Langkah-langkah entry data modifikasi Microfosft Excel dengan Aplikasi Biodata UN Offline 2010:
1. Double click file biodata un.exe dalam folder SMP, kemudian Login dengan User ID dan Password yang benar.
2. Pilih menu Export/Import; Pilih Rayon; Pilih Sekolah; Pilih Buat Format Excel.
Maka file dengan nama format biodata dalam excel-P akan terbentuk dalam folder SMP.
3. Buka file format biodata dalam excel-P tersebut, kemudian Save As di direktori \SMP\03-27\biodata dengan nama biott_pprrsssj.xls (ingat, harus Save As dengan type Microsoft Office Excel '95)
keterangan :
tt    = kode tahun ujian
pp   = kode propinsi
rr    = kode rayon
sss = kode sekolah
j      = jenjang (P=SMP; U=SMU; K=SMK)
contoh : bio11_0327006P.xls
4. Setelah file bio11_0327006P.xls (contoh acak) terbentuk, silakan buka file tersebut dan masukkan data peserta ujian. Isikan dalam format text. Kemudian import file tersebut dari Aplikasi Pendataan.
5. Pada menu Export/Import; Pilih Rayon; Pilih Sekolah; Pilihan Proses; pilih Import Excel; klik Proses 
Jika file biott_pprrsssj.xls belum terbentuk akan muncul pesan seperti ini

Tetapi jika file biott_pprrsssj.xls sudah terbentuk maka pesannya akan seperti ini
  Selamat, Anda berhasil !
6. Apabila akan mengubah atau mengedit, silakan buka file biott_pprrsssj.xls, dan kembali Save As dengan type Microsoft Office Excel '95. Atau langsung mengedit dengan Biodata UN Offline (Aplikasi Pendataan Ujian Nasional).
7. Apabila mengedit dengan Excel, ulangi langkah ke-4. Jika ada pesan seperti ini :
Pilih Yes
Untuk upload data siswa secara online, sekolah harus menyediakan file dbf dari aplikasi Biodata UN Offline dan file csv-nya. File csv bisa kita dapatkan dengan meng-export biodata online yang tersedia dalam Aplikasi Biodata UN Offline yang baru.
Mohon ma'af cara Login untuk Biodata UN Online tidak saya jelaskan, karena tidak diijinkan oleh Bidang Sekmen.

Rabu, 03 November 2010

Grebeg Besar Demak


Masjid Agung Demak adalah masjid tertua di Indonesia. Masjid ini terletak di Kauman, Bintoro, Demak, Jawa Tengah. Masjid ini merupakan tempat berkumpulnya para wali penyebar agama Islam, disebut juga Walisongo.
Zaman Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Walisongo adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan, namun peranan mereka sangat besar dalam mendirikan kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat Walisongo ini lebih banyak disebut dibanding yang lain. Diantara Walisongo yang berkaitan erat dengan Grebeg Besar Demak adalah Sunan Kalijogo.
Masjid Agung Demak
Sunan Kalijogo atau Raden Sahid adalah putra adipati Tuban yang bernama tumenggung Wilatikta. Sunan Kalijogo adalah murid Sunan Bonang, dalam syiarnya menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah, antara lain kesenian wayang kulit dan tembang suluk. Tembang suluk Ilir-Ilir dan Gundul-Gundul Pacul dianggap sebagai hasil karyanya. Dalam satu riwayat, Sunan Kalijogo disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishaq, menikahi juga Syarifah Zainab binti Syekh Siti Jenar dan Ratu Kano Kediri binti Raja Kediri.
Dahulu setiap tanggal 10 Dzulhijah kabupaten Demak memperingati hari raya Idul Adha dengan melaksanakan sholat Id dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban. Waktu itu, di lingkungan Masjid Agung Demak diselenggarakan keramaian yang disisipi dengan syiar-syiar keagamaan, sebagai upaya penyebarluasaan agama Islam oleh Wali Sanga. Keramaian/kegiatan tersebut sampai sekarang tetap berlangsung tetapi dipindahkan ke Lapangan Tembiring Jogo Indah atas usulan para ulama karena dimungkinkan mengganggu/ mengurangi kekhusyu’an bagi yang melaksanakan ibadah di Masjid Agung Demak.
Inti dari tradisi Grebeg Besar Demak tidak lepas dari Sunan Kalijogo karena prosesi Grebeg Besar adalah penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijogo di Kadilangu Demak. Setelah selesai Sholat Id, di makam Sunan Kalijogo, Kadilangu, dilaksanakan penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijogo. Prosesi penjamasan tersebut diawali dari Pendopo Kabupaten Demak, dimana sebelumnya dipentaskan pagelaran tari Bedhoyo Tunggal Jiwo, melambangkan “Manunggale Kawula lan Gusti”, yang dibawakan oleh sembilan remaja putri.
Tari Bedoyo
Dalam perjalanan ke Kadilangu minyak jamas dikawal oleh Bhayangkara kerajaan Demak Bintoro “Prajurit Patangpuluhan”  dan diiringi kesenian tradisional Demak.
Prajurit Patangpuluhan adalah prajurit yang pada masa dulu merupakan pasukan elit kerajaan Demak Bintoro berjumlah 40 orang. Pasukan ini dipimpin oleh seorang Manggolo Yudho yang disebut "Lurah Tamtomo", dengan 2 orang pengapit (ajudan). Terdapat pula seorang Wiro Tamtomo dan 3 orang Bintoro. 
Prajurit Patangpuluhan
Keberadaan Prajurit Patangpuluhan sampai saat ini masih dipertahankan sebagai bagian dari acara Grebeg Besar yang diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah. dalam acara pemberangkatan minyak jamas. yaitu mengawal minyak yang akan dikirim ke Sesepuh Kadilangu untuk menjamas pusaka peninggalan Sunan Kalijogo, berupa keris Kyai Crubuk dan Kutang Ontokusumo. 
Penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijogo dilaksanakan oleh petugas dibawah pimpinan Sesepuh Kadilangu di dalam cungkup gedong makam Sunan Kalijogo. Sesepuh dan ahli waris percaya, bahwa ajaran agama Islam dari Rasulullah Muhammad SAW dan disebar luaskan oleh Sunan Kalijogo adalah benar. Oleh karena itu penjamasan dilakukan dengan mata tertutup. Hal tersebut mengandung makna, bahwa penjamas tidak melihat dengan mata telanjang, tetapi melihat dengan mata hati. Artinya ahli waris sudah bertekad bulat untuk menjalankan ibadah dan mengamalkan agama Islam dengan sepenuh hati. 
Makam Sunan Kalijogo
Penjamasan pusaka-pusaka tersebut didasari oleh wasiat Sunan Kalijogo sebagai berikut ”agemanku, besuk yen aku wis dikeparengake sowan Ingkang Maha Kuwaos, salehna neng duwur peturonku. Kajaba kuwi sawise uku kukut, agemanku jamas ana.” Dengan dilaksanakan penjamasan tersebut, diharapkan umat Islam dapat kembali ke fitrahnya dengan mawas diri/mensucikan diri serta meningkatkan iman dan taqwa Kepada allah SWT.
Pembawa Minyak Jamas
Dengan selesainya  prosesi penjamasan piusaka-pusaka peninggalan Sunan Kalijogo tersebut, maka berakhir pula rangkaian acara Grebeg Besar Demak.